Menjadikan Kota Lebih Smart (1)

Menjadikan kota lebih smart berarti membahas berbagai aspek yang menjadikan sebuah kota menjadi smart city. Bicara mengenai smart city tidak lepas dari pendekatan terpadu untuk meningkatkan efisiensi operasional sebuah kota. Bagaimana suatu kota mampu mengikuti perkembangan kebutuhan sehingga kualitas masyarakatnya juga meningkat. Nah kalau sudah begitu bisa dipahami bagaimana kota-kota kita masih perlu upaya besar untuk menuju apa yang disebut dengan smart city. Jangan jauh-jauh, Jakarta sebagai ibukota Masih perlu banyak pembenahan menuju smart city dalam arti yang sebenarnya. Apartement juga menjadi solusi hunian bagi pendatang. Jadi jangan heran seorang gubernur yang memahami hal ini dan mau berusaha menata kembali apa yang terlalaikan sebelumnya, tentu sakit kepala bukan main. Kita nggak butuh seorang gubernur ber EQ tinggi untuk menangani hal ini. Sudah terlalu telat untuk menghadapi benturan yang selalu ditangani secara musyawarah. Kepentingan secara lebih besar harus diutamakan. Pada akhirnya manfaat akan dirasakan oleh masyarakat secara luas.

Reduce, Reuse and Recycle

Satu masalah utama suatu kota adalah pengelolaan sampah (waste management). Rame-rame masalah kantong plastik berbayar akhir-akhir ini adalah strategi pemaksaan untuk mengurangi sampah plastik dan memaksa rumah tangga menggunakan kembali kantong plastik atau membawa keranjang sendiri dari rumah.

Syukurlah media ikut mendukung program ini sehingga masyarakat lebih aware dan tidak banyak hambatan dalam penyelenggaraan ini. Apalagi negara lain sudah lama menjalankan ini.

Plastik menjadi salah satu target karena banyak penggunaannya. Sampah plastik pada umumnya perlu puluhan tahun baru bisa terurai secara alami. Apalagi kita tahu bahwa dari berbagai macam sampah plastik, hanya beberapa jenis saja yang bisa digunakan kembali seperti sampah botol air mineral. Masih banyak material plastik lain yang tidak memiliki nilai jual karena meskipun diinformasikan bisa di recycle, pabrikan lebih memilih menggunakan material yang baru. Ini terjadi khususnya karena material bekas sudah terkontaminasi dengan senyawa lain atau warna.

Selain kantong plastik, mungkin pemerintah juga harus melirik ke kemasan mie instant, biskuit dan lain-lain yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat. Kemasan ini lebih kompleks materialnya karena pabrikan membutuhkan kemasan yang menarik untuk kepentingan penjualan. Material seperti PET, OPP, Nylon, Kertas, Cellophane, LLDPE, CPP, VM CPP, VM PET, Aluminium Foil, dan lainnya sering dipadukan dalam kemasan ini dan semakin susah diurai.

(berlanjut)

 

Summary

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *